Saya sudah ga perawan di usia sekolah

(UPDATE, a day after this article is written: Just heard that this ‘tes keperawanan’ thing is a hoax. That DInas Pendidikan di Prabumulih sebenernya ga pernah bilang kalo tes ini akan diwujudkan. So please do not condemn them coz it can be false news. Well, if it is just a hoax , then I got work up for nothing hehe, but I still believe this article below still serves a purpose.)

Postingan ini menjadi semacam surat yang saya mau ajukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Prabumulih, Sumatera Selatan. Atau siapa saja yg ambil keputusan untuk melaksanakan tes keperawanan buat siswi2 SMA di Indonesia.

Untuk info full article nya bisa dibaca disini.

(Sorry ya pak, kalo bahasa saya campur aduk, bahasa Inggris, Indonesia, Jawa dan juga bahasa gaul.)  

Jadi intinya, Bapak bilang kalo ga perawan berarti ga boleh sekolah.

Knapa saya ambil keputusan untuk menulis postingan ini? Karena saya ingin bapak mendengar dari sisi wanita muda yang sudah kehilangan keperawanannya sewaktu usia sekolah.

Mungkin Bapak pikir dalam hati, “kamu ga perawan karena kamu nakal kan dulu? Seks bebas dan lain sebagainya.” Iya Bapak benar. Saya dulu nakal, seks bebas disana sini. Sampai akhirnya saya hampir bunuh diri, merasa ga ada lagi makna dalam hidup saya.

Tapi apa Bapak tau knapa saya menjadi nakal?

Karena didikan orang tua yang salah. Saya yakin ortu saya tidak bermaksud demikian, tapi karena mereka tidak mengerti bagaimana mendidik anak dengan baik, mereka mendidik saya seperti apa yg nenek kakek saya lakukan pada mereka. Kurangnya kasih sayang, omongan yg menjatuhkan, bukannya mendukung dan menyemangati anak2nya. Saya juga sering dipukuli sewaktu kecil sampai SMP, sehingga menimbulkan kemarahan dan kebencian pada ortu saya.

Saya haus kehangatan ortu, apalagi ayah saya. Dia adalah tipikal ayah yang ada tapi tidak benar2 ada. Hanya sibuk kerja dan kasih duit. Jarang sekali saya merasakan kehangatan di keluarga.

Nah hal ini menjurus kepada karakter saya yang haus akan kasih sayang. Sewaktu saya beranjak remaja, ada laki2 yang memberi saya perhatian, kasih sayang yang saya tidak pernah rasakan sebelumnya. Dan akhirnya dia meminta keperawanan saya. Karena saya dulu masih gampang dibohongin, di bujuk2, katanya kalo sayang sama dia, saya kasih keperawanan saya yg paling berharga buat dia. Akhirnya saya kasih.

Sejak itu hidup saya semakin suram, ternyata laki2 ini hanya menggunakan saya sebagai pelampiasan seks. Dan saat saya lepas darinya, saya jatuh sama laki2 yg laen. Polanya sama pak, mereka semua sepertinya sayang sama saya, tapi ternyata mereka punya tujuan lain.

Saya semakin merasa hidup saya tidak ada artinya, dan tidak mengerti bagaimana saya bisa keluar dari ini semua. Jadi saya ambil keputusan untuk bunuh diri. Tapi karena doa teman2 saya yang benar2 peduli sama saya. Saya akhirnya bertemu sama Tuhan Yesus. (Saya tidak berusaha menginjili Bapak. Saya cuma mau cerita pengalaman saya pribadi. Tolong terus dibaca ya. Ini menyangkut hidup mati.)

Dia yang membuat saya merasa berharga kembali. Dia memaafkan semua kesalahan-kesalahan yang saya buat dimasa lalu. Dan menjadikan saya seperti baru. Tau ga Pak, rasanya gimana diterima, dimaafkan, dan bisa memulai hidup baru? Sejak saat itu saya memutuskan untuk mengabdi sama Tuhan. Dan akhirnya saya sekarang sudah dipulihkan total, mempunyai suami yang takut Tuhan dan juga seorang anak laki2.

Saya juga mendedikasikan hidup saya untuk anak2 cewe yang punya masa lalu yg seperti saya.  Saya mau memberitahu mereka bahwa ada masa depan yg penuh harapan buat mereka. Meskipun mereka berbuat kesalahan kehilangan perawan dimasa lalunya. Bisa saja mereka kehilangan keperawanan karena kebodohan/kepolosan (seperti saya) , atau karena dilecehkan, diperkosa.

Waktu Bapak ambil keputusan untuk mengadakan tes keperawanan buat tes masuk siswi SMA, saya ngeri. Karena saya teringat kejadian dimana waktu itu saya berbicara di sebuah konferensi buat anak2 SMP. Saya kesaksian bagaimana saya kehilangan keperawanan saya dan bagaimana Tuhan memaafkan dan memulihkan saya. Tau gak, Pak? Setelah acara itu, ada salah satu anak cewe masih SMP, memberanikan diri datang ke saya secara pribadi dan mengaku dia udah tidak perawan. Apa yang telah terjadi sama dia?

Waktu dia masih TK, ada seorang paman yang usil. Dia ngeliat anak cewe ini main bersama anak laki2 yg berusia SD di dekat rumahnya, dan paman ini memanggil mereka berdua, dan paman ini mengajari anak SD ini memperkosa dia. Anak SD ini ga ngerti apa2 jadi dia lakukan saja, apalagi anak cewe ini juga ga ngerti. Waktu anak cewe ini udah smakin besar, dia baru mengerti apa yg terjadi saat itu. Dan dia tidak pernah mengatakannya pada siapa pun. Baru setelah dia mendengar kesaksian saya, dia memberanikan diri mengaku pada saya dengan menangis. Karena dia tidak tahu dia harus berbicara kepada siapa. Malu yang dia tanggung karena sudah tidak perawan dan bukan karena kesalahannya.

Bisakah Bapak membayangkan juga tes keperawanan untuk masuk SMA dilakukan untuk anak2 cewe seperti dia? Apa yang bisa terjadi? Saya tidak pernah bisa melupakan wajah anak ini yang penuh tangisan didepan saya. Sekarang pun saat saya menulis surat ini, saya tidak bisa membendung air mata saya. Saya bisa merasakan sakitnya menyimpan ini semua, saya bisa merasakan pedihnya kehilangan keperawanan.

Apa yang akan terjadi pada anak2 cewe yang mengalami hal-hal seperti dia?

Mereka tidak akan berani mendaftar sekolah. Jika ortunya memaksa, apa alasan yang mereka bisa berikan? Bisa2 mereka memilih untuk mengakhiri hidup mereka daripada hal ini terbongkar.

Daripada melakukan tes keperawanan sebagai kontrol sosial buat anak2 muda tidak bergaul bebas, bagaimana kalau saya mengajukan usul lain?

Education starts from home.

Pendidikan dimulai dari rumah.

Maksud saya, bagaimana saya bisa jadi nakal dan terjerumus dalam seks bebas dimasa remaja? Karena saya tidak mengerti. Orang tua saya tidak pernah mendidik. Mendidik kebanyakan hanya dalam bentuk pukulan atau carcian. Saya tidak merasa saya berharga. Disitu saya mencari kasih sayang dalam bentuk yang salah, yaitu dipelukan laki2 lain.

Daripada melakukan tes keperawanan, kenapa kita tidak membuat suatu gerakan memberi pendidikan kepada orang tua? Terutama bagi orang tua muda. Tidak pernah terlambat untuk belajar menjadi orang tua yang baik dan penuh kasih. Yang bisa menaruh prinsip2 Tuhan dan kekudusan didalam anak2 mereka sejak dini.

Saya punya seorang teman wanita yang masih usia sekolah dan single. Dan dia menjunjung tinggi sekali kekudusan. Dia punya prinsip teguh tentang sex after marriage meskipun dia sekolah di Amerika. Bagaimana dia bisa begitu? Saya melihat dia mempunyai hubungan yang dekat sekali dengan orang tuanya. Terutama ayahnya. Ayahnya memberi dia kasih sayang selayaknya seorang ayah yang menghargai putrinya. Teman saya ini tahu kalau dia berharga, dan juga keperawanannya. Jadi dia jaga baik2 untuk suaminya nanti. Dan dia tidak mau menyakiti ortunya dengan melakukan hal-hal yang dia tau bisa menyedihkan mereka.

Orang tua mempunyai peran besar dalam membentuk karakter anak.

Saya yakin Bapak punya anak. Perhatikan benar-benar apa kebutuhan anak-anak Bapak. Ga cuma anak cewe saja. Yg kehilangan keperawanan emang anak cewe, tapi siapa yang menghilangkan? Tentu saja yg cowo kan?

It takes two hands to clap.

Jadi juga perhatikan anak2 cowo disekitar kita. Kita sebagai orang tua harus mendidik mereka untuk menghargai wanita. Dan anak laki2 belajar ini semua dari ayahnya. A father is a role model how to be a man. Menjadi seorang laki2 yang penuh tanggung jawab dan integritas.

Sebagai penutupan, saya sekarang sudah menjadi seorang ibu. Saya punya kesalahan di masa lalu, tapi Tuhan sudah mengampuni saya dari dosa masa lalu. Tuhan saja bisa, kenapa kita tidak bisa mengampuni?

Usul saya, Dinas Pendidikan bisa mengadakan kelas-kelas Parenting untuk orang tua. Membahas masalah2 pelik seperti puber, seks, keperawanan, bagaimana mendidik anak dengan benar dan penuh kasih. Bagaimana berbicara kepada anak dll. Bagi orang tua yg tidak bisa menghadiri karena kesibukan, bisa juga Dinas Pendidikan membagikan buku kecil panduan atau dalam bentuk CD yang bisa didengar. Banyak cara yang bisa ditempuh sesuai dengan kebutuhan orang tua. Karena orang tua juga banyak yang tidak mengerti bagaimana membesarkan anak dengan baik. Mereka membuat kesalahan dll, seperti orang tua saya.

Saya percaya, dengan pengertian yang benar, orang tua bisa memberikan prinsip2 kekudusan ini dan inilah yang akan mencegah seks bebas diantara para remaja. Karena tes keperawanan hanya mencegah luarnya saja. Mereka bisa saja tetap mempertahankan keperawanan mereka tapi melakukan hal2 seks yang lain, yg nyerempet-nyerempet misalnya. Karena tes keperawanan is not dealing directly with the real problem. Masalah sebenarnya adalah prinsip-prinsip kebenaran tidak benar2 tertanam di dalam diri mereka.

Pesan saya, didiklah orang tua dengan benar sejak dini dan mereka akan menghasilkan anak-anak muda yang luar biasa yang bisa membanggakan Indonesia.

(PS: Hoping that para pembaca can share this posting around… so maybe, just maybe.. bisa nyampe ke si Bapak-bapak yg dimaksud🙂 )

119 Responses to “Saya sudah ga perawan di usia sekolah”


  1. 3 Ronald August 22, 2013 at 2:28 pm

    Mantapp..
    Pemerintah kita emang doyannya “eazy way out” aja..

  2. 5 Wahyu Mahbubah August 22, 2013 at 3:12 pm

    saya sangatttttt ssuuuuuuukkkkaaaa tulisan ini,
    tapi kadang bingung juga mbak😦
    kadang orang tua sudah memberikan proteksi maksimal, tapi kalau tidak semua orang tua ikut serta ya piye???
    Soalnya, di depan orang tua bersikap manis, tapi di belakang beda lagi karena terpengaruh teman-teman yang lain😦, yang bisa jadi bertingkah “aneh-aneh” karena kurang pengawasan orang tua
    tapiii intinya saya setuju untuk menolak tes keperawanan~

    • 6 juni August 22, 2013 at 11:54 pm

      Iya, saya melihat ada yang anaknya sudah diberikan kasih sayang dari ortu nya, terutama ayahnya, masih aja bisa lolos karena terpengaruh pergaulan

      • 7 nelotte August 23, 2013 at 9:49 am

        yoi, bisa aja terlalu polos jadi gampang ngikut temen. Makanya jadi ortu juga harus ngajarin anak ttg jaga diri baik2 sebagai wanita/laki2😀

  3. 10 Nettts August 22, 2013 at 3:34 pm

    Nelly, excellent blog posting as usual! thank you for highlighting this article and the stupid ineffective ignorant proposal that doesn’t really address the problem and for your courage and perennial care and love to share and re-educate re-educate re-educate and empower all of us, girls and women especially. God bless and ever onwards!

  4. 12 Fauzi Aulia August 22, 2013 at 4:15 pm

    Saya suka tulisan kmu, jujur, berani!🙂
    Cuma mau nambahin, keinginan untuk sex itu alami, Tiap manusia yang udah dewasa pasti punya keinginan untuk itu. Jaman dulu sih cocok, cewe umur 15 dewasa, langsung nikah. Tapi jaman sekarang, mungkin karena faktor sosial, rata-rata usia nikah naik jadi sekitar 22-30 (nebak). Sedangkan di Indonesia, melakukan sex sebelum nikah itu merupakan sebuah kesalahan. Jadi, di Indonesia, ga singkron antara kebutuhan biologis manusia dan keadaan sosial yang ada.

    Intinya sih, jangan salahin manusia (kebutuhan biologis ga bisa dihilangin, cuma bisa di-repress. Like anything else, repressing natural urge is never good), cuma keadaan sosial di Indonesia itu yang perlu dirubah🙂

    cmiiw.

  5. 14 sontoloyo August 22, 2013 at 4:26 pm

    sangat bagus sekali tulisannya. Lanjutkan perjuangannya mba….emang pemerintah itu kadang2 punya pikiran yang aneh2 dalam mendidik bangsa…kaya ga bisa berfikir 5-10 kedepan dampak dari apa yang mereka gariskan sebagai suatu peraturan.

  6. 16 blessedfin August 22, 2013 at 6:08 pm

    ci kenapa cici ngga share di Arise! aja ya ???
    kenapa?? kenapaaaa???

  7. 20 fenny August 22, 2013 at 6:10 pm

    Ijin share. Saya setuju sekali.

  8. 22 Dhieta August 22, 2013 at 7:12 pm

    Cici… that’s a good article… But I think we have to remove the Kadisdik Prabumulih part… soalnya kenyataannya adalah beliau tidak pernah mngatakan hal tersebut. Just to make it fair hehe… soalnya kadang berita d media bikin government disalahmengerti oleh rakyatnya sendiri…. hehehe…

  9. 24 lala August 22, 2013 at 8:01 pm

    hi ci neli🙂 mungkin cici udah ga inget lagi sama aku karna waktu cici keluar dr indo aku masih kecil bgt.. aku anak ny thaiku ajan yg di jakarta. kita masih sepupu.kebetulan aku follow cici di sosial media dgn tujuan spy tali persaudaraan kita ga putus (maaf jd kyk stalker) aku ga sengaja liat ini di insta cici dan aku tersentuh liat ny. kebetulan aku skrg kelas 3sma jurussan ips,jd pembelajaran nya berhubungan sama berita lingkungan yang kyk gini jg. aku setuju bgt sama surat ini. aku juga sedikit mengalami yg di alami cici. buat aku orang tua aku jg belum bisa dikatakan bisa mendidik anak. pilih kasih, ga mau mendengar nak, ga bisa ngertiin anak, mau menang sendiri, tuntutan mereka yg berlebihan. dll, aku jg tertekan disini. waktu smp tiap malam aku nangis sampe ketidurran bahkan jg pernah pny pikiran bunuh diri. maka dari itu skrg aku mati-matian cari univ di luar negeri yg cocok untuk aku n keuangan mereka. aku bahakan pny pikiran klo udh bs klr dr rmh ga mau balik lg. pikirran aku jahat sih tp aku jg disini jg tertekan merasa ga ada yg peduli, seperti mencari kasih sayang. thank you bgt bt cici surat ini sangat menginspirasi aku. aku jg tau kondisi keluarga besar kita kyk gimana. aku jg pernah denger tentang cici. kita harus kuat sama semua ini karna tuhan selalu ada buat kita. (maaf ya alur nya berantakan n jd curhat disini. GBU😀

    • 25 nelotte August 23, 2013 at 9:43 am

      Hi non, yeah i think i remember you. The key is for you to find Jesus. Dia yg akan mulihin loe from all the pain and disappointment with our family. Dia yg juga akan buka jalan for your future. He will also direct you for your destiny and calling. Put your hope in Him and He will never fail you. Gue bisa kuat diantara segala macam konflik keluarga ya cuma gara2 Jesus aja yg nguatin terus menerus dan keep me focused on His calling. Gue juga ga tau gimana menghadapi keluarga, udah beyond my reach lah. They have their own thinking and kemauan. So yah gue cuma bisa diem aja sih. Can’t say anything much anymore. So be strong and find your peace in Him.

      • 26 redevacia August 23, 2013 at 4:34 pm

        hello there, bagus banget artikel nya, salut buat keberaniannya to open this in public.🙂

        cuma penasaran aja, did u reconcile with your family in the end? by family, i mean your parents, especially your father. if you did, do u mind to share how did u reconcile with them? karena aku baca dari artikel di atas, sedikit banyak cici merasa bahwa orang tua cici punya saham/andil besar sampe terjadinya salah pergaulan cici yang berujung ke free sex, so i cant help but thinking, you must blame them and maybe angry with them for some time? no?

      • 27 nelotte August 23, 2013 at 4:44 pm

        Hi non, that’s a very good question to ask.😀

        Yes I reconciled with my family. They knew about my past coz I told them. That’s after I was healed by Jesus then I had the courage to tell them. I told them I experienced all that because I didn’t feel any love from our family, I felt lonely etc but I didnt blame them, because that was not our culture kan showing love etc.

        And I was angry long time ago, and all those anger/pain disappeared when I was healed, again by meeting Him.

        But my family is quite a complicated one. My parents are divorced and they are still constantly blaming each other, for things that happened to me and my sibling, for things that happened to them, even back from 30 years ago. ya gitu deh. Ga ada abis2nya. We still need breakthru for my parents to reconcile with each other sih. Gue pun sampe skarang meskipun uda reconcile, masih susah untuk dekat lagi sama mereka. Karena mereka masih negative terus, still hard to approach. So oh well,… masih dalam proses.

        Oh ya, how did I tell them? I told them straight to the point abt my kepaitan to them, my past, even the sexual life, the abuse, etc etc. But then I explained to them that I love them, because God has healed me from every kepaitan.

        Their response?
        My dad: menyelamati diri sendiri karena dia claimed he had been praying for me for 10 years (dia kristen, but to me, ga kayak kristen)
        My mom: she just cried when she knew my past, and started to blame my dad again and again.

        Haiz…

  10. 28 J. Michiyo August 22, 2013 at 8:23 pm

    Betull sekali xD jangan melihat dari 1 arah saja xD Setuju !

  11. 30 Jeanette August 22, 2013 at 9:48 pm

    thank you for writing this. saya sudah share juga di facebook. semoga bisa dibaca oleh yang bersangkutan yah🙂 i agree, this is stupid and very judgmental.

  12. 32 Ucok August 22, 2013 at 9:59 pm

    Siapapun kamu, ada 2 hal yang ingin aku apresiasi:
    1. Keberanian dirimu untuk membagikan pengalaman dan membuat orang lain belajar. Tidak semua orang memiliki keberanian yang sama, namun setidaknya dirimu sudah berusaha dan memberikan wadah bagi orang lain untuk berpikir dan belajar.
    2. Pemikiran kritis yang tidak hanya mencela namun juga memberikan masukan dan saran juga patut diacungi jempol. Kita semua sedang dalam era dimana “pandai mengkritik, tidak bisa memberi solusi”.
    Salute untuk kedua hal tersebut.

    Jadi mari kita semua tetap menjadi pribadi yang kritis dan memberikan inovasi perubahan. Setidaknya saya masih percaya meski ada beribu orang yang kurang waras akal sehatnya, masih juga ada berjuta orang yang lebih waras dan ingin memajukan bangsa ini.

    Salam Experiential Learning (segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita memiliki makna yang dapat kita pelajari sebagai pembelajaran diri)🙂

  13. 34 ocari August 23, 2013 at 12:08 am

    halo kk, tulisannya bangus banget dan menginspirasi🙂
    ijin buat sedikit cerita ya. Gw punya temen, dan dia udah ga perawan.. Dia kehilangan keperawanan waktu SMA, dan selama hampir 6 tahun dia trauma akan kejadian itu. Memang itu bukan suatu pemerkosaan, namun hanya keingintahuan, dan “kehausan” kasih sayang dari orang terdekatnya.. Seperti hal di atas, dia sangat takut akan tes keperawanan, karena jika orang tau dia tidak perawan, maka akan menimbulkan sanksi sosial.. Gw setuju sama postingan kk, bahwa masih ada masa depan buat mereka-mereka yang sudah tidak perawan. Tapi jika ada orang yang sangat mencintainya, bukankah tidak diukur dengan perawan atau tidaknya seorang cewek?

    • 35 nelotte August 23, 2013 at 9:52 am

      Hi non,

      Thanks for commenting.

      Maybe you can share my blog to your fren yg loe sebut? Mudah2an dia bisa belajar memaafkan diri sendiri dan have hope again for her future.

      Gue ada other posting ttg keperawanan dll, hope it will bless her.

  14. 36 Wit Wijayantodipuro August 23, 2013 at 1:00 am

    saya share di beberapa grup Fesbuk
    tks.

  15. 38 Andre August 23, 2013 at 1:14 am

    Setuju bgt.Semoga aj orng yg dimaksud ngerti n pikirannya sampai.Takutnya krn pikiran orang macam itu liatnya hanya dari segi kultural dan tradisi yg kolot yg dianggap tabu.Pdhl kita hrs pny wawasan luas dan open minded spy bs menjangkau orang orang
    Seperti itu.Gb

    • 39 nelotte August 23, 2013 at 9:56 am

      Yoi. Sehabis gue kesaksian di depan anak2 SMP itu, ada yg anggap gue ‘udah cewe bekas.’ Gue sedih banget and ada pastor gue yg strengthen me, dia bilang “there is always two sides of people that you will be facing. One: those that will judge you. Second: Those girls that are broken just like you and they need you.”

      So maksud gue, akan selalu ada orang2 yg nge-judge soal keperawanan. We just need to be sabar aja sih coz they dont know what they are talking about hehe.

  16. 40 anonim August 23, 2013 at 3:13 am

    Tulisannya bagus, Tapi saya sekedar mau kasih tau, kalo berita tentang tes keperawanan di Prabumulih itu HOAX. Bisa diliat di twitter, Hashtag #TraffickingPBM atau di potongan berita ini https://pbs.twimg.com/media/BSPcLkBCIAA3FgZ.jpg:large Gbu.

  17. 42 opik August 23, 2013 at 5:20 am

    Coba juga bandingkan dengan sekolah2 dan SMA yang melakukan tes keperawanan. SMA Taruna Nusantara melakukan tes keperjakaan, tes keperawanan dan tes fisik.

    Lagipula tes itu netral. tapi coba tanya orang2 yang selama ini menolak tes keperawanan, apakah mereka tidak bisa diskriminatif dan mau menyekolahkan anak2nya ke sekolah yang banyak putri yang selaput daranya sudah tidak utuh lagi?

    disitulah letak diskriminasi yang sebenarnya

  18. 44 Pieter Sandi Wijaya August 23, 2013 at 7:54 am

    kalo menurut saya,, mau perawan kek, mau nggak kek, mau ud pernah hamil, aborsi, dll.. ya terserah aja..orang dia cuma mau sekolah, mau belajar, ngapain dipersulit,,lagian itu kan urusan pribadi masing2.. jadi kita gak perlu & ga berhak tau juga lah.. udah lah.. urusin diri sendiri aja,,kembangin potensi diri dan fokus sama diri sendiri dulu.. kalo udah bener2 hebat baru ngurusi orang lain..🙂

    nice sharing btw🙂

    sukses buat kita semua..majur terus Indonesia..

  19. 46 Clara Ingewati August 23, 2013 at 9:36 am

    hi there,

    postinganmu sungguh luar biasa!

  20. 48 Melly Feyadin August 23, 2013 at 10:09 am

    Artikelnya keren..
    edukasi sejak dini itu penting bgt ya..org tua sangat berperan penting dalam hal ini.

    masalah tes keperawanan..sy jg ga setuju, apa yg mba ulas di atas bener semua, gmna klo keperawanannya hilang bukan krn kemauan sendiri tp krn kecelakaan, apa org mau percaya?🙂

    • 49 nelotte August 23, 2013 at 2:06 pm

      yoi, bisa juga it works the other way. Kalo orang nya di tes udah ga perawan, tapi emang beneran karena dia prostitusi, dia bisa aja boong and bilang dia pernah diperkosa… so tes perawan ga gitu efektif sih menurut gue.

  21. 50 ayundaslamet August 23, 2013 at 11:51 am

    Bagus banget dan sangat setuju dengan tulisannya!! Lebih baik dituntaskan dari akar permasalahannya.. Setuju dengan diadakan Parenting Class..

    Orang tua adalah penentu nasib anak bangsa..

    Salam Kenal

  22. 52 LovelyLawliet August 23, 2013 at 12:12 pm

    I love this!!! TRULLY!!
    waktu pertama aku baca mengenai artikel tes keperawanan hal pertama pops up di otak ku adalah STUPID! Yang membuat hal tersebut tentu bukan orang yang bisa menghargai orang lain khususnya perempuan, ditambah ada yang menulis bahwa tes itu dijalankan dengan memasukan 2 jari ke liang kewanitaan si “korban”.. bagaimana itu bisa dilakukan?? buat aku itu malah pelecehan! dan lagi memberikan label untuk “tidak perawan” kepada anak perempuan itu hal yang kejam sekali, karena label itu akan jadi pemicu stress yang nantinya akan berujung ke berbagai hal negatif seperti menurunnya self esteem, depresi, bahkan bunuh diri.
    hal lain yang aku setuju dari postingan ini adalah benar, tes keperawanan BUKAN solusi, tapi LEARNING itu solusi. mendidik anak-anak untuk mengetahui kenapa kita “berbeda” dengan budaya-budaya lain yang mungkin tidak mementingkan keperawanan, kenapa kita harus menjaga kekudusan hingga tiba waktunya.
    postingan yang sungguh memberkati> God bless you and your family!

  23. 53 gau August 23, 2013 at 12:17 pm

    Hi ci,
    Tersentuh baca blog nya.
    Kalau mau kontak Cici lewat Japri boleh ngga?
    Lewat mana ya?

    Saya ada pengalaman yang kurang lebih sama dan ingin bertanya/share kepada cici

  24. 55 michelleanugrah August 23, 2013 at 12:26 pm

    Mohon maaf, artikel.itu bukanlah hoax. Itu memang betul2 sebuah wacana yg kalau tidak ditentang oleh kita yg berpikiran sehat dan logis bisa jadi menjadi kenyataan. Jadi menurut saya surat ini masih tepat untuk dibaca oleh pihak2 yg berkompeten untuk mengeluarkan kebijakan dan aturan sekolah.

    Selain itu, tidak hanya kelas untuk orangtua berkaitan dgn masalah pubertas dll dsb. Kelas yg memberikan pengetahuan ttg kesehatan reproduksi dan seksual mempunyai peluang besar utk membuka mata para remaja ttg bahaya pergaulan bebas. Tdk seperti apa yg ditakutkan oleh para orang2 berpikiran picik bahwa kelas pendidikan seksual malah akan mendorong anak2 remaja terlibat seks bebas, beberapa riset yg dilakukan di negara2 yg memberikan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual seperti di Australia menunjukkan bahwa pendidikan ini membantu baik remaja putra maupun putri utk lebih memahami tentang kesehatan alat reproduksi mereka, dan bahayanya seks di usia dini, kehamilan di usia dini dan pergaulan seks bebas. Tanpa perlu ada embel2 agama, dosa, masuk neraka dll dsb, dengan dasar informasi yg ilmiah dan akurat, remaja putri akan lebih paham ttg alat reproduksi mereka dan cara merawat dan melindunginya, dan remaja putra juga lebih paham tentang apa yg tidak boleh mereka lakukan terhadap rekan2 remaja putri mereka

  25. 56 TJin Kwang August 23, 2013 at 12:50 pm

    TOLAK tes keperawanan untuk bisa masuk SMA….. bikin PETISI bila perlu DEMONSTRASI…….. !!!

  26. 58 lingling August 23, 2013 at 2:11 pm

    Tdk smuanya yg orgtuanya buruk anak nya menjadi hilang keperawanan itu sih tergantung pribadi masing2, bnyk koq yg broken home tp anaknya tetap lempeng jalannya, ksalahan sendiri ditanggung sendiri bukan malah melempar kesalahan dan mencari pembenaran.

    • 59 Semar Mesem August 23, 2013 at 3:00 pm

      betul memang ada juga yang broken home tp tetep jaga keperawanan. Tulisan saudari kita ini ingin mengatakan bahwa kenapa sih harus ada ide pakai test-test keperawanan sebagai syarat untuk masuk sekolah ?

      Mengapa ide itu tidak juga diterapkan pada para lelaki….rasanya tidak adil kalau ide itu hanya untuk para perempuan, yang seringkali keperawanan nya (mau broken atau tidak) hasil bujuk rayu para lelaki.

      Apa karena susah ngetes para lelaki tah….?

    • 60 nelotte August 23, 2013 at 3:26 pm

      Well, there is always a few sides in every story. In my story, that’s what happened. In no way that I’m trying to ‘melempar kesalahan dan mencari pembenaran’🙂 It’s great that some anak2 yg dari keluarga broken masih bisa lempeng.

      And to clarify, ‘kesalahan sendiri ditanggung sendiri’, for me it doesnt work, coz that is what yg bikin gue malah mau bunuh diri karena I felt so alone, smuanya gue tanggung sendiri. But when I found Jesus, that’s when I felt finally someone understands all my pain and feeling😀 and I’m not alone! Yeayyyy!! Thats what make me who I am today😀

  27. 61 kezia August 23, 2013 at 2:51 pm

    aheyyy another powerful writing from ci Neloteeee😀

  28. 62 Julian Sanjaya (@Siekh_Akaminosi) August 23, 2013 at 2:58 pm

    that’s a good sentence…absolutely agree with this person

  29. 63 helenaevy August 23, 2013 at 4:03 pm

    wow i don’t know you at all (just read a random blog) but you are truly inspiring😀
    Keep writing! huehe *nunggu postingan berikutnya ah

  30. 65 ice August 23, 2013 at 5:10 pm

    gak bisa ngomong apa2 selain “two thumbs up for you!!”

    Izin share ya ^_^

    Jesus bless you and ur family🙂

  31. 66 ocari August 23, 2013 at 5:22 pm

    hahai, iya ci, sebenarnya itu gw sih.. cuma gw masih belum bisa terlalu terbuka, karena itu kelam banget buat gw.. makanya setelah baca postingan cici ini, gw sadar lah, kalau gw masih punya masa depan..
    gw sekarang kuliah ci, dan bener-bener deh, takut banget pas ada tes urin 2 tahun lalu waktu masuk kuliah.. kan gw cuma pengen belajar, bukan yang lain-lain.. hehe.. thanks banget ci postingannya!! :DD

  32. 67 welly August 23, 2013 at 5:50 pm

    ijin share yaaaah

  33. 68 Anonymous August 23, 2013 at 7:40 pm

    “Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati, air matamu berlinang, mas intanmu terkenang”. Harusnya dunia pendidikan berkaca pada syair ini karena mereka tonggak utama dalam membimbing dan membina. Gimana ibu pertiwi gak bersusah hati, gak berhenti nangis kalau para “ujung tombak” yang paling utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa gak bisa memakai isi kepalanya dengan baik, malah lebih memilih bermain aman dengan menciptakan hal-hal yang cetar membahana, salah satunya wacana tes keperawanan ini, ketimbang menjawab tantangan mereka yang katanya juga berperan sebagai orang tua di sekolah. Saya jadi heran, apakah peran mereka sebagai orang tua di sekolah sudah benar-benar hilang atau selama ini mereka gak sadar kalau mereka itu “ujung tombak” bangsa ini ya?.

    Saya kasih 4 jempol saya untuk tulisannya mba.

  34. 69 zai August 23, 2013 at 11:54 pm

    pengekangan dan keputusan2 yang selalu terkesan mencurigai akan merusak mental manusia yang sedang berkembang.

    banyak anak2 yang beranjak remaja, karena kuatir si ortu terlalu mengekang, akhirnya malah semua yang dilarang itu malah dilakukan oleh si anak sebagai bentuk protes terhadap sikap diktator orang tua kepada dirinya.

    jangan dikekang, jangan dicurigai, tapi ajarilah anak untuk bertanggung jawab pada perbuatannya dan mengetahui segala konsekuensi dari keputusannya.

  35. 70 Saragi August 24, 2013 at 3:08 am

    mantaaaaffff……… bersyukurlah org2 yg berpikir dgn “isi kepala” dan bukan dgn “isi selangkangan”………. apalg org2 yg berpikir “ga jauh dr selangkangan”…………..

  36. 71 eggga August 24, 2013 at 9:22 am

    tulisan yang menarik dari kisah hidup yang luar biasa🙂. Yup setuju tes keperawanan gak ada gunanya, malah menyesakkan hati dan menakuti-nakuti. Gak kebayang anak kecil yang pernah jadi korban pedofil harus putus sekolah gara-gara tes gak berguna ini. Semoga mereka membaca tulisan ini dan beroleh hikmat. Salam kenal ci Nelly🙂.

  37. 72 rt August 24, 2013 at 5:45 pm

    Ca this be translated into full english? Me half indo so my bahasa is bad

  38. 74 Dimitria Hentry Vensivana August 25, 2013 at 4:37 pm

    air mata ga bs terbendung, saat baca tulisan ini.. Agree with u ci.

    Anak perempuan kecil, yang seharusnya bisa mengenyam pendidikan, bukan jadi korban atas (sorry before) otak jahanam yang ga mikirin efek langsung buat anak perempuan tersebut🙂

  39. 75 Nami August 25, 2013 at 7:04 pm

    Nice post.
    Sedih aja karena cuma cewek yg jadi korban disini..terlepas betulan ada atau nggaknya tes keperawanan itu, seorang wanita sudah mengalami kerugian fisik dan mental, jadi ga adil banget men-judge masa lalu seseorang.

  40. 76 js August 27, 2013 at 10:58 am

    bagus banget ceritanya, bole tanya” via email?

  41. 78 rumah dijual di surabaya August 31, 2013 at 4:06 pm

    pasti ada alasan tertentu knpa jadi sperti tu…

  42. 79 cK August 31, 2013 at 7:11 pm

    tulisan yang sangat mencerahkan. bagus untuk para calon orang tua agar tidak salah mendidik anak. saya share di twitter ya🙂

  43. 80 Miftahgeek August 31, 2013 at 7:28 pm

    Setiap anak memiliki hak untuk mengenyam pendidikan, katanya. Yang miskin dibantu via BOS, katanya. Tapi yang ga perawan ga boleh masuk, masa mau ngasih guru – guru yang mesum bocah yang ga perawan, katanya.

  44. 81 anotherorion August 31, 2013 at 7:59 pm

    trimakasih postingan ini sudah di update, karena wacana test keperawanan kepala dinas itu dipelintir wartawan, semoga bisa menjadi pelajaran kita bersama agar tidak selalu mudah percaya dengan pemberitaan media http://iwanyuliyanto.wordpress.com/2013/08/22/hoax-tes-keperawanan-bagaimana-agar-ucapanmu-tidak-dipelintir-wartawan/

  45. 82 Anonymous September 24, 2013 at 2:08 am

    tipikal cwek bodoh…

    • 83 nelotte September 24, 2013 at 8:42 pm

      tipikal orang yang menghakimi… lempar batu, sembunyi tangan😛

      Emang gue bodoh dulu, penuh dosa dan kesalahan. Sejak kenal Tuhan, jadi pinter lho. Udah bisa bikin blog, nulis article di majalah, terus kesaksian di seminar, terus bantuin cewe2 yang kayak gue dulu supaya menjadi pintar lagi. Isn’t it great dari cewe bodoh dipulihkan tuhan jadi pinter?😀

  46. 84 desi October 21, 2013 at 3:58 pm

    Saya setuju bgt mb..
    Kita hrs memotivasi mereka jgn cuma bsa mencemoo mereka..

  47. 85 Anonymous November 10, 2013 at 12:29 am

    anak-anak indonesia harus menjaga diri…….

  48. 86 Anonymous November 25, 2013 at 8:50 pm

    Lindungilah wanita Sebagaimana kita Lindungi IBU kita

  49. 87 Yunita linda sari December 25, 2013 at 2:35 pm

    Cerita kmu sm kyak aq,
    kepolosan q di manfaat kn cowok,
    shingga skrg aq menyesal dan di anggap rendah di mata cowok

    • 88 nelotte December 26, 2013 at 9:57 am

      Hi Yunita,

      Tuhan udah mengampuni. Harga dirimu ada di dalam Tuhan, jgn biarkan siapa aja menentukan harga dirimu ya. Cari Tuhan and Dia yg akan memulihkan semuanya🙂 Like how He has done for me and for many women out there. It is for you too.

  50. 89 apaajah January 5, 2014 at 11:41 am

    kembali kpd keyakinan.. ajaran yg kita anut.. semua ajaran tdk menjerumuskn kpd yg buruk.. pahami kembali, apa itu MANUSIA YG SEBENAR’BENARNYA… setan sekarang itu berwujud, d ktakn dlm ajaran yg msing” anut.. ada bukan..??? wallahu’alam..

  51. 90 Riri magdalena Sianturi January 7, 2014 at 2:05 pm

    Puji Tuhan. . .
    Kesadaran & Kemauan yg Tuhan ignkan dri ank2nya. . .

    Percaya sebab tdk ada yg mustahil BagiNYA. . .
    krn kita adalh barang berharga & layak jika kita mw mengakui smua dosa2 kita. . .
    serahkan apa yg menjadi keluhan kita maka Ia akan turun tangn. . .

    Lanjutkan kesaksian kmu untuk memberi semangat bagi yg membutuhkannya…
    bila penting jadikan ini buku crita & diedarkan agar smua siswi dpt membaca kesaksian kamu. .

    termasuk jg para pemimpin di INDONESIA …
    Firman Tuhan BerkatA::apa yg kita katakan atw sampaikan lwt kebenaranNya maka smua itu tdk kemnali dgn sia2🙂.

    Shalom Tuhan Yesus Memberkati

  52. 92 LeEna cie boyu baban January 10, 2014 at 4:57 pm

    Setuju banget..

  53. 93 aap January 20, 2014 at 1:00 am

    Menurut saya. Apa yang di ajarkan orang tua dulu itu bagus. Terlepas dari agama dan budaya di indinesia. Karna mugkin zaman dulu indonesia adalah negara keras(dijajah lebih dari 500thun) dan itu juga bagi anak-anak yang masih di bawah umur baik laki-laki maupun perempuan harus di ajarkan pendidikan yang tegas dan keras. Dan zaman moderen sekarang memang penjajahan dan penindasan sudah tidak ada tapi penjajahan dan penindasan secara moral dan ekonomi menjadi hukum rimba keadaan itu sendiri. Jika individu muda masih di katakan labil secara pemikiran dan emosi maka peran ketegasan orang tua di butuhkan. Misal jika perempuan oleh orang tuanya untuk menjaga diri dan kehormatan keluarganya. Di didik untuk berfikir dewasa bagaimana akibat perbuatan selanjutnya jika berbuat sesuatu maka tidak akan ada yang namanya pergaulan bebas itu sendiri. Tapi kalau kita didik secara manja maka orang tua itu sendiri akan dilawan oleh anak mereka. Jadi kesimpulanya pendidikan yang TEGAS dan KERAS perlu adanya karna sudah menjadi mendarah daging bagi orang tua masyarakat indonesi. Tapi juga harus adanya perhatian dari orang tua itu sendiri agar anak-anak menjadi segan dan sopan. Kepada orangtuanya.

    Saya anak pertama dari 3 saudara yang kesemuanya laki-laki (semuanya berarti harus memiliki kerja untuk dapat hidup) ayah saya anggota polisi dan kakek saya dari ayah adalah tentara (peta) sedangkan kakek dari ibu adalah geriliawan. Sudah tau sendiri dari silsilah keluarga saya baimana pendidikan orang tua bagi anaknya.
    Satu kalimat bagi saya untuk pembaca blog ini “dunia ini keras jika kalian ingin dunia lembut dengan anda maka kamu harus keras kepada diri anda”

  54. 94 bubu January 20, 2014 at 6:28 pm

    Halah banyak bacot nich yg bikin posting. Test keperawanan akan berlanjut, saya mendukung full sekali.
    Soalnya sudah banyak laki2 yg jaga perjaka malah dapet perempuan bekas orang.
    Gini ya, sudah waktunya lah sekarang yg mulai bener dikit. Klo situ mang haus sayang, kenapa situ dlu pas perawan ga nyari suami, malah nyari laki2 buat pacaran.
    Jadi ga usah salahin orang lain, tapi salahin diri loe sendiri. Gua juga tau yg ada di otak loe, suka sama cowo ntu karena ganteng kan? Dan salah loe sendiri sama antek2 keluarga loe yg bikin aturan, pacaran boleh, nikah ga boleh.
    Akhirnya loe ya kena sendiri getahnya.
    Saya dukung 1000% untuk Test Keperawanan, dan semoga Tuhan meridhoi hal ini🙂

    • 95 nelotte January 21, 2014 at 11:11 am

      Saya inget waktu saya kesaksian di depan anak2 SMP dulu, ada yg bilang kalo cewe ga perawan berarti udah bekas. That word really hurt. Pastor saya abis gitu bilang sama saya gini, there is always 2 sides of people when they hear my story. One side adalah orang2 yg menghakimi masa lalu kita. Sisi satu lagi adalah orang-orang yang sama2 broken and they need kesaksian hidup seperti saya, bahwa mereka udah dimaafkan sama Tuhan dan mereka bisa bertobat benar2 dan mempunyai hidup baru.

      So I guess, mas/mbak bubu ini adalah golongan orang yg pertama?🙂 Hi, nice to meet you.

      Well, I live not for orang2 di golongan pertama, tapi yang digolongan kedua. So whatever you are saying to me, silakan, saya tidak akan tersinggung karena saya tau tujuan saya membagikan ini smua untuk apa. I won’t change my mind that God has healed me and restored my life fully and I want to let the world sees that God is full of forgiveness and second chance.😀

      To answer your questions.

      1) No, saya suka sama cowo itu bukan karena ganteng. Cowo saya yang dulu2 kagak ada yg ganteng huHAUHuAHuAHA, body juga pas2an wkkwkwk. Well, my husband now sih is handsome. He is the best thing that ever happened to me after Jesus😀

      Dan ini membuktikan bahwa mereka yg menghakimi biasanya punya pola pikir sendiri yang belon tentu benar dengan kenyataan yang terjadi ama yg dihakimi.🙂

      2) Mas/Mbak bubu bilang semoga Tuhan meridhoi tes keperawanan. Which God are you talking about? Tuhan yang gue tahu dan yg banyak orang tau adalah Tuhan yg adil dan juga maha kasih. Dia adil menghukum tapi disaat kita bertobat dan berbalik dari kesalahan2 kita, Dia menerima kita dan memberi kita kesempatan kedua. It happened with so many people.

      So I guess, pesan saya untuk mbak/mas bubu, saya berdoa supaya mas/mbak benar2 ketemu Tuhan yg memaafkan smua kesalahan mbak/mas dan memberi mas/mbak bubu kesempatan kedua.

      Saya sudah seringkali merasakan dan mengalami keajaiban dan kebesaran Tuhan. Apa mbak/mas bubu sudah pernah? Kalo sudah, that’s great!! Saya berdoa supaya mbak/mas semakin mengenal the true God lebih dalam lagi.

      Because God is good and Devil is a liar😀

    • 96 bubu January 25, 2014 at 7:16 pm

      Klo situ ngomong Tuhan Adil, tentulah Tuhan Adil, makanya Tuhan membuat perempuan ada selaput dara agar perempuan membatasi ruang geraknya.
      Sekarang salah situ sendirilah, maunya di mengerti Tuhan. Eh, Loe kira Tuhan itu anak2 yg ga ngerti? Loe kira Tuhan bikin loe ga pake perhitungan dlu yg detail? Loe kira Tuhan bikin loe, ga pake mikir, langsung mau jadi2in aj?
      Loe kira Tuhan ga tau loe bakal jebol perawan di luar nikah?
      Nah, klo loe yakin Tuhan Adil, seharusnya loe yg musti ikut aturan-Nya bukan loe yg malah ngeDIKTE Tuhan. Sama aj loe kayak Iblis yg membangkang Tuhan ketika Tuhan menyuruh Iblis sujud ke kaki Adam. Ga da bedanya loe sama Iblis tukang ngbalik fakta.
      Sekurang2nya memang gue kasar berkata, tpi gue dari dlu ga mau ngedikte Tuhan, gue ikut aturan Tuhan, selama hidup gue, gue aman. Gue slalu dapat yg gue inginkan. Gue dpat jaga keperawanan gue dan gue juga dapat suami yg super baik, gentleman sekali. Gue punya anak yg imut dan ga prnah ngelawan ortu. Punya anak cewe yg ngerti sendiri bgaimana bersikap menjadi cewe dan mmpunyai anak laki yg tau cara bersikap sebagai laki, u tau rasa syukur gue kepada Tuhan, sangat2 luar biasa.
      Bahkan anak gue yg cewe aj ngelihat tulisan loe ini geram juga, kayak perempuan kegatelan tau.
      Gue punya anak cewe dan cowo dimana daya tangkap mereka luar biasa, gue ga pernah memaksa keduniawian, buktinya peringkat mereka bagus2 aj. Dan daya hapal mereka luar biasa. Dan gue sebagai perempuan dan seorang Ibu selalu bersikap sebagai posisi gue. Apa yg gue minta ke Tuhan selalu terkabul, tiba2 suami gue bawa apa yg gue minta ke Tuhan, semua serba keberuntungan di dalam hidup gue.
      Sekarang mending loe Tobat aj dech, sesali aj kesalahan diri loe, ga usah ngerekayasa suatu hal, kayak DAJJAL aj loe, tukang bolak-balik fakta.
      Gue tetap mendukung 1000% test keperawan. Semoga Tuhan mewujudkan keinginan gue yang Besar ini. Puji hanya untuk Tuhan.

      • 97 nelotte January 26, 2014 at 10:49 pm

        Lho mbak, kan saya sudah tulis kalo saya sudah bertobat. Itu kan masa lalu saya dimana saya belon kenal yesus. Ya pasti gue bersalah donk ga nurut tuhan saat itu, namanya juga masih berdosa dan kagak ngerti. Kayaknya mbak salah tangkep nih, saya ga totally salahin ortu saya, saya bilang salah satu faktor saya haus kasih sayang karena ortu yg sepertinya ga sayang sama saya, dipukulin, dibilang saya ga berguna waktu sejak dari kecil kalo ga nurut. Banyak bgt lho kejadian begini. Anak2 jadi keluar dari jalan tuhan karena benci ama perlakuan ortu mereka. I praise God that mbak bubu dan suami bisa mendidik anak dengan baik. Thats basically the purpose of my writing!!! Huahhahahah itu yg saya tekanin. Bahwa pendidikan itu adalah mulai dari rumah, dari orang tua. I love it when uou say anak2 loe deket sama loe dan kenal tuhan, that’s great!! Because they will look up to u and they are blessed to have a mom that is gracious. Hope now u will understand my point of writing. Bukan gue mendikte Tuhan, yg terjadi dulu2 itu adalah dimana saya BELON kenal Tuhan. Kalo manusia ga kenal tuhan bisa segitu jauh jatuhnya. Please tell ur daughter that this woman yg nulis emang kegatelan dulu karena belon kenal Tuhan, but dia uda bertobat dan dia ingin cewe2 yg ga ngerti bisa bertobat juga. Begitu mbak.

        Btw kalo mbak masih ga ngerti juga maksud saya dan cewe2 laen yg butuh pengampunan tuhan dan second chance, ya sudah lah. I rest my case, I dont want to argue anymore. God bless you and ur family🙂

  55. 98 Obat Asma Alami February 7, 2014 at 11:52 am

    tulisan yang terbuka dan berani. memang harus begini, Semoga tulisan seperti ini dapat bermanfaat bagi semua yang berkepentingan

  56. 100 Tirani February 25, 2014 at 8:58 pm

    Wah.. isi artikelnya blak2an bnget..

  57. 101 JesusFollower June 3, 2014 at 2:11 am

    Perbaikan nih. Ada yg slh tulis.

    Nice sekali tulisan anda. Masalah keperawanan it urusan pribadi dan Tuhan. G ad sangkut paut nya sama sekali sm niat utk nuntut ilmu. Kalo aja ada nenek2 yg pengen masuk SMA lg [ngayal? Wkwk] trus di suruh tes keperawanan, trus gmn dong. Hahahaha..
    Kdg pemikiran “kaum intelek” indonesia ini ga logis. G seimbang sm kondisi yg ada.

    Tp apa yg Anda smpaikan td, sangat mnyentuh. Saya pun sdg mncoba utk tidak jatoh ke lubang yg sama walopun kdg kdagingan sya lbih kuat. Harapan saya 1, org yg saya cintai saat ini, it bs jd teman hidup saya smpai mati.

  58. 103 blueskyandme September 11, 2014 at 11:23 pm

    Read this and almost cry…you really brave to tell your story..:)
    salam kenal ya ci..saya jg kadang bertemu dengan beberapa gadis yang menceritakan masa lalunya yang kelam,,i don’t hate and judge them..saya justru pengen nangis, karenaa pasti mereka udah lalui banyak perjuangan untuk menghadapi trauma dan masa lalu mereka

    Dari cerita mereka yang saya dengar, kasih sayang keluarga sangat berpengaruh,,faktor pergaulan jg berpengaruh. I still pray for them meskipun saya sendiri mungkin ga tau rasanya gmana mempunyai masa lalu yang rasanya ingin dilupakan…dalam hati saya,,saya menangis,,,karena banyak dari mereka yang cerita ke saya adalah org yang baik dan care ke saya..it’s really sad to know that people judge other people because the think their better than others…saya yakin tidak bijak berpandangan negatif ke seseorg yang kehilangan keperawanan tanpa mendengar seluruh kisah mereka dan segala hal yang mereka alami.
    semoga selalu jadi berkat buat sekitar ya ci..

    God bless you and your familly

  59. 107 Yenz September 12, 2014 at 6:18 pm

    forget the past. life must move on

  60. 108 Anonymous September 30, 2014 at 5:08 pm

    npa mbak mengatakan kurang ksh sayang dari ortu ?
    ,,mbak sz mau tanya apa bila ortu telah memberikan ksh sayang yang begitu banyak dan selalu mengajarkan hal yang baik dan sih cewek sangat aktif dlm kegiatan gereja atau yang bagi muslim memakai hijab tetapi
    knp mereka bisa merelakan KEPERAWANAN kepada lelaki bejat apa lagi menjual keperawan kepada lelaki hidung belang…..??

    • 109 nelotte October 1, 2014 at 11:35 am

      Hi bro,
      Hmmm kita ga tau sih background cewe2 itu gimana. So kita ga bisa bilang dia begini karena begitu. Apa sesuatu pernah terjadi sama dia, kita kan ga tau persis. So I will avoid to ‘judge’ them, karena kita ga tau what her real story. Yang jelas ya, doain aja supaya bener2 these girls ada perjumpaan pribadi ama Tuhan, baru mereka bisa bener2 bertobat dan mulai kehidupan yg baru.🙂

  61. 110 Anonymous October 15, 2014 at 12:50 pm

    hai ci, gw baru baca lagi tulisan cici. hebat ci, Tuhan hebat n cici juga, tulisan cici bagus dan gw setuju sama ide cici. God Bless ci🙂

  62. 111 christine November 20, 2014 at 1:43 am

    Ci blh saya minta emailnya? Mau sharing pribadi dengan cici. Thanks a lot.

  63. 113 Kurnia Oktaviani October 7, 2015 at 3:28 pm

    . Kenapa hanya Tes keperawanan saja?
    . Kenapaa’ tdgk Ter Keperjakaan jga ?

  64. 114 Marescotti January 1, 2016 at 8:29 pm

    Terima kasih.. Postingannya sangat menarik..
    Just sharing, saya belum menerima Yesus sepenuhnya dalam diri saya..
    Saya masih mahasiswi semester 2..
    Tapi saya sudah kehilangan V saya saat saya masih kelas 5 SD karena saya penasaran, apa saya suda mens apa blum, karena sebagian teman saya sudah, maka saya mencoba mencari tahu dengan menusukkan jari saya ke kemaluan, dan saya mendapati darah dan juga rasa sakit.. Saya cuma berpikir bahwa mungkin ini rasanya mens + rasa sakitnya..
    Setelah saya SMP kelas 2 ketika saya terjerumus ke arah petting, saya baru sadar bahwa ternyata saya sudah tidak perawan lagi, lebih parahnya, pacar saya yang memberi tahu saya..
    Cuma saran.. Tapi sebaiknya pendidikan seksualitas di berikan sejak dini, kalau bisa, setiap pasangan yang akan menikah di beri edukasi dulu sehingga dapat memberi pelajaran yang baik pada anak”nya..
    Karena keluarga saya juga kurang perhatian pada saya..

  65. 115 Luthfan Pratama February 13, 2016 at 1:26 pm

    perilaku moral sama etika berhubungan erat sama norma agama.

    saya ga tau gmn aturan agama kalian tentang norma sama etika berinteraksi dengan lawan jenis.

    yang jelas dalam agama kami, kami ga diperbolehkan punya hubungan lain di luar hubungan pernikahan.

    ga ada pacaran, ga ada jalan berduaan, bahkan ga ada komunikasi diluar hal2 yg benar2 mendesak.

    sebagian dari kami, masih ada yg menjalankan norma seperti itu.
    tapi ada juga sebagian dari kami yg sudah ikut2an norma sama budaya orang lain.

    pemerintah ingin bersikap preventif.
    alih2 mereka yg udah ga takut lagi sama tuhan,
    (zina itu diharam kan oleh agama kami)
    maka pemerintah ambil sikap, mungkin mereka lebih takut dengan social punishment.
    sehingga mereka menjalankan tes keperawanan sbg salah satu cara.

    intinya, kalau takut tuhan, mereka ga kan berani berzina.
    tes keperawanan pun akan futile dan ga berpengaruh.
    lin halnya dgn mereka yg udah ga takut sama tuhan, maka social punishment lebih baik sbg tindakan preventif.

  66. 116 rifani February 19, 2016 at 10:14 pm

    Personal message boleh ga ? Pengen curhat mba

  67. 118 Brownie June 8, 2016 at 9:45 pm

    Halo kak, saya tertarik sekali untuk mendengar kesaksian kakak waktu terima Tuhan Yesus. Kurang lebih saya mengalami hal yang sama dgn kakak. Saya harap bisa ngobrol sama kakak kalau bisa. Trims kak 😊


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Quote of the week

We are not human beings having spiritual experience. We are spiritual beings having human experience.

Archives

Receive Blog Updates!

Add to Technorati Favorites
Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

%d bloggers like this: